Showing posts with label Mengapa Perlu Bersedih. Show all posts
Showing posts with label Mengapa Perlu Bersedih. Show all posts

Jangan Bersedih Dengan Penghasilan Yang Sedikit, Maka Sesungguhnya Yang Sedikit Itu Ada Bersamanya Kesejahteraan


Setiap kali jasmani anda bersenang-senang, roh anda sebenarnya merasa tertekan. Dan dalam situasi yang serba kekurangan itu sebenarnya terdapat kesejahteraan. Bersikap zuhud terhadap dunia, merupakan kesenangan yang hanya akan diberikan Allah kepada hamba-hamba yang dikehendakiNya.
“Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang-orang yang ada di atasnya…” (Maryam: 40)
Seorang penyair mengatakan:
Air,roti dan rasa aman
Adalah kenikmatan yang amat besar.
Jika aku mengatakan nikmat itu sedikit
Beerti aku telah kufur terhadap nikmat Tuhanku.
Bukankah dunia memang tidak lebih dari air dingin, roti yang hangat dan naungan pohon yang rendang.
Penyair lain mengatakan:
Taburkanlah padaku
Mutiara dari atas langit Sarandib
Dan luapkanlah gumpalan emas dari dalam perigi.
Sungguh
Jika aku hidup bukanlah kerana kekayaan.
Jika aku mati
Bukan juga kerana aku perlu dengan kubur.
Cita-citaku seteguh tekad seorang raja.
Jiwaku bebas tanpa kekafiran.
Bila aku tidak puas dengan umurku
mengapa aku harus mengunjungi Zaid dan ‘Amr.
Begitulah sikap orang-orang yang hidup dengan berpegang teguh kepada prinsip, jujur dalam dakwah, dan bersungguh-sungguh dalam meyampaikan risalah mereka.

Jangan Bersedih, Anggaplah Celaan Orang Sebagai Angin Lalu


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam surah Ali-‘Imran, ayat 111:
“Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat mudarat kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan celaan saja…”
“…dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” (An-Nahl: 127)
“…dan janganlah kamu hiraukan gangguan-gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah…” (Al-Ahzab: 48)
“…maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan…” (Al-Ahzab: 69)
Seorang penyair mengatakan:
Tidak akan meluap ombak laut
Sampai membahayakan
Hanya kerana lemparan kerikil seorang budak kecil.
Di dalam sebuah hadith Hasan ada menyebutkan bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:
“Janganlah kalian menyampaikan kepadaku tentang aib sahabat, keran sungguh aku suka untuk keluar menemui kalian dalam keadaan hati yang bersih.”

Jangan Bersedih Hanya Kerana Orang Mengingkari Kebaikan Anda, Sekiranya Benar Anda Ingin Mencari Pahala Dari Allah


Jadikanlah amal perbuatan anda itu ikhlas hanya kerana Allah semata-mata dan jangan mengharapkan ucapan terima kasih dari orang lain! Dan jangan bersedih atau gelisah apabila kebaikan yang anda curahkan kepada orang lain justeru dibalas dengan celaan, atau tatkala “tangan putih” yang anda hulurkan dibalas dengan tamparan yang menyakitkan dan tidak menghargai kebaikan yang telah anda berikan. Kerana itu, apa yang seharusnya anda tuntut hanyalah balasan pahala dari Allah.
Allah Subhanau wa Ta’ala berfirman tentang wali-waliNya, sebagaimana yang tersebut di dalam surah Al-Fath, ayat 29:
“…mereka mencari kurnia Allah dan keredhaanNya…”
Juga tentang nabi-nabiNya:
“…Aku tidak meminta upah sedikit pun kepadamu atas dakwahku…” (Shad: 86)
"Katakanlah: ‘ Upah apa pun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu’ ….” (Saba: 47)
“Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya.” (Al-Lail: 19)
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keredhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (Al-Insan: 9)
Seorang penyair berkata:

Sesiapa saja yang berbuat baik pasti ada pahalanya
Kerana hal itu adalah kebiasaan
Antara Allah dan manusia
Yang tidak pernah lenyap.
Maka berbuat baiklah hanya untuk Yang Maha Esa, kerana Dialah yang akan memberi pahala, memberi kurnia, menjatuhkan hukuman, menghisab setiap amalan, yang akan meredhai dan juga yang akan memurkai. Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi.

Ketika ramai di antara para sahabat yang terbunuh sebagai syuhada di kota Qandahar, maka Umar Radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada para sahabat yang masih hidup: “ Siapakah yang terbunuh?” maka mereka pun menyebut beberapa nama, kemudian berkata: “Dan masih banyak lagi nama mereka yang tidak kau ketahui,” jawab para sahabat itu. Maka menitislah air mata Umar Radhiyallahu ‘anhu, lalu berkata: “Tetapi Allah mengetahui mereka.
Ada seorang soleh telah memberi sepiring makanan yang sangat lazat kepada seorang yang buta. Keluarga soleh itu berkata: “Bukankah orang buta ini tidak tahu apa yang dimakannya.” Orang soleh itu menjawab: “Tetapi, bukankah Allah mengetahuinya.”
Selama anda menyakini bahawa Allah selalu melihat dan mengetahui kebaikan yang anda lakukan, serta mengetahui keutamaan yang anda hulurkan, maka mengapa anda mengharapkan sesuatu daripada manusia?

Jangan Bersedih,Banyak Cara Yang Dapat Mengusir Kesedihan


Istirehat bagi seorang mukmin itu adalah kelalaian, waktu yang terluang adalah pembunuh, dan penggangguran adalah kebatilan. Dan kebanyakan manusiayang bersusah hati, berdukacita dan bersedih dalam hidup adalah pengganggur yang tiada pekerjaan. Adapun manfaat yang mereka perolehi dari semua itu adalah sekadar khabar angin dan banyak angan-angan yang tiada berguna. Itulah keuntungan yang juga diraih oleh mereka yang tidak pernah mengerjakan amalan yang bermakna dan berbuahkan pahala.

Oleh sebab itu, bergeraklah dan bekerjalah, berlatihlah dan kajilah sesuatu, bacalah Al-Quran dan bertasbihlah, tulislah sesuatu dan kunjungilah sahabat anda! Manfaatkanlah waktu anda dengan sebaik-baiknya, dan jangan biarkan sedetikpun waktu anda terbuang dengan sia-sia! Ingat, sehari sahaja dibiarkan waktu anda kosong tanpa sebarang kegiatan, nescaya kesedihan, kedukaan, kecemasan dan keraguan akan mudah menyelinap di dalam tubuh anda. Dan apabila berlaku sedemikian, maka nada manjadi lapangan permainan para syaitan.

Jangan Bersedih.Dunia Ini Tidak Layak Di Tangisi


Kebahagiaan seseorang akan semakin bertambah, berkembang dan mengakar apabila ia mampu mengabaikan semua perkara yang remeh dan tidak berguna. Kerana, orang yang berkeinginan tinggi adalah orang yang lebih memilih kepada akhirat.
Telah berwasiat salah seorang daripada ulama salaf kepada saudaranya: “Jadikanlah keinginanmu itu kepada satu arah sahaja, yakni keinginan bertemu dengan Allah, bahagia di akhirat dan damai di sisiNya.”

“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabbmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi bagi Allah.” (Al-Haqqah: 18)

Tiada keinginan yang lebih mulia selain keinginan yang tersebut. Apalah ertinya sebuah keinginan yang hanya bertumpu kepada kehidupan ini sahaja. Kerana, semuanya itu hanya akan bermuara kepada keinginan untuk meraih kedudukan, jawatan, emas, perak, anak-anak, harta-benda, nama besar dan kemasyhuran, istana-istana dan rumah-rumah besar yang kesemuanya ini akan musnah dan lenyap.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menggambarkan sifat-sifat musuhNya, yakni kaum munafik, sebagaimana yang tersebut di dalam surah Ali-‘Imran, ayat 154:

“Sedangkan yang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah….”

Begitulah, mereka hanya berkeinginan memuaskan nafsu, perut dan syahwat mereka, dan mereka pun tiada memiliki keinginan yang lebih tinggi dari itu.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang membaiat para sahabat di bawah suatu pohon, terdapat seorang munafik yang justeru meninggalkan bai’at itu untuk mencari untanya yang berwarna merah. Dan orang itu berkata: “Aku akan lebih berbahagia sekiranya aku dapat menemui untaku daripada aku turut serta berbai’at sepertimana yang kalian lakukan.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkata:

“Semua orang di antara kalian diampuni, kecuali pemilik unta merah itu.”

Sesungguhnya orang munafik bukan sahaja ingin menyesatkan dirinya sendiri, tetapi juga seringkali mengajak para sahabatnya yang lain. Misalnya, mereka pernah berkata: “Janganlah kalian berangkat perang pada saat panas terik begini.” Maka Allah menempelak mereka seraya berfirman:

“…katakanlah: ‘Api neraka jahannam itu jauh lebih panas.’ …..” (At-Taubah: 81)

Orang munafik yang lain berkata:

“…berikan saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah…” (At-Taubah: 49)

Itulah orang munafik; hanya memikirkan keuntungan peribadinya sahaja, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam surah At-taubah, ayat 49:

“…ketahuilah, bahawa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah…”

Selain itu, orang munafik sering mementingkan harta dan keluarganya sahaja di mana mereka pernah berkata, sebagaimana di dalam surah Al-Fath, ayat 11:

“…harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah keampunan bagi kami…”

Sesungguhnya, semua keinginan mereka itu hanyalah keinginan yang remah dan tidak bernilai. Dan keinginan seperti itu hanya akan dipeduli oleh orang-orang yang bodoh dan tidak berharga. Manakala para sahabat yang mulia, mereka selalu mengharapkan keutamaan dan keredhaan dari Allah.

Jangan Bersedih, Masih Banyak Nikmat Yang Ada Pada Diri Anda


Fikirkanlah nikmat dan kurniaan Allah yang amat besar. Lalu bersyukurlah kepadaNya atas semua nikmat itu, dan sedarilah bahawa anda benar-benar telah bergelimang dengan pemberianNya
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“… dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, nescaya kamu tidak akan mampu menghitungnya…” (Ibrahim: 34)
“… dan menyempurnakan untukmu nikmatNya lahir dan batin…” (Luqman: 20)
"Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allahlah datangnya…” (An-Nahl: 53)
Allah menegaskan betapa besarnya kenikmatan yang Dia berikan kepada hamba-hambaNya sebagaimana yang tersebut di dalam surah Al-Balad, ayat 8 hingga 10:
“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya kedua mata, lidah dan dua bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.”
Terdapat banyak kenikmatan yang terus mengalir; nikmat kehidupan, nikmat kesihatan, nikmat pendengaran, nikmat penglihatan, nikmat kedua tangan dan kedua kaki, nikmat air dan udara dan nikmat makanan. Dan nikmat yang paling agung adalah nikmat hidayah rabbaniyyah, yakni agama Islam. Seseorang pernah berkata: Apakah anda rela mata anda dibeli dengan harga satu juta dollar? Apakah anda rela menjual kedua belah telinga anda dengan harga satu juta dollar? Apakah anda rela kedua kaki anda dibeli dengan harga satu juta dollar? Apakah anda rela kedua tangan anda dibeli dengan harga satu juta dollar? Apakah anda rela menjual hati anda dengan harga satu juta dollar? Berapa banyak harta yang ada ditanganmu, namun mengapa anda enggan bersyukur!!!

Jangan Bersedih, Maafkan Orang Yang Menyakiti Anda Itu Lebih Baik


Harga hukuman (qisas) sangatlah mahal dan itulah yang harus dibayarkan oleh seorang pendendam dan pendengki, iaitu orang yang menderita kerana memelihara dendam dalam hatinya. Jika ia ingin membalaskan dendamnya ia harus mengorbankan hatinya, dagingnya, darahnya, perasaannya, kedamaiannya, ketenteramannya dan kebahagiaannya. Akhirnya hanya kerugian yang akan diperolehinya.

Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengkhabarkan kepada kita tentang ubat dan penyembuhan dari penyakit ini, sebagaimana di dalam surah Ali-‘Imran, ayat 134:

“…dan, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang…”

“Jadilah kamu pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Al-A’raf: 199)

“…tolaklah (kejahatan) itu dengan cara yang lebih baik, dan tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah dia telah menjadi teman yang amat setia.” (Fushshilat: 34)

Jangan Bersedih.Kerana Nikmat Allah Melimpah


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam surah Yusuf, ayat 87:

“…sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir.”

“ Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan menyakini bahawa mereka telah didustakan, datanglah kepada para Rasul itu pertolongan Kami…” (Yusuf: 110)

“…maka Kami telah memperkenankan doanya dan meyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.”(Al-Anbiya’: 88)

“…dan kamu menyangka kepada Allah dengan bermacam-macam prasangka. Disitulah di uji orang-orang mukmin dan digoncangkan hatinya dengan goncangan yang sangat dasyat.” (Al-Ahzab: 10-11)

Jangan Bersedih, Ingatlah Selalu Kepada Allah


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam surah Ar-Ra’d ayat 28:
“…ingatlah, hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenang.”
“Kerana itu, ingatlah kamu kepadaKu, nescaya Aku ingat (pula) kepadamu…” (Al-Baqarah: 152)
“…lelakidan perempuan yang banyak mengingati Allah…” (Al-Ahzab : 35)
“Wahai orang-orang yang beriman, banyaklah kamu mengingati nama Allah dan bertasbihlah di waktu pagi dan petang. (Al-Ahzab: 41-42)”
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harya-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingati Allah…” (Al-Munafiqun: 9)
“…dan ingatlah kepada Rabbmu jika kamu lupa…” (Al-Kahfi: 24)
“Dan, bertasbihlah dengan memuji Rabbmu ketika kamu bangun berdiri. Dan bertasbihlah kepadaNya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar)” (Ath-Thur: 48-49)
“Hai orang-orang yeng beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (Al-Anfal: 45)
Disebutkan dalam hadith shahih:
“(Perumpamaan) orang yang selalu berzikir kepada Allah dan tidak pernah berzikir kepada Allah bagaikan orang hidup dan orang mati.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
“Mudah-mudahan Al-Mufarridun mendahului (keberhasilannya)” para sahabat bertanya: “ Siapakah Al-Mufarridun itu, wahai Rasulullah? Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mereka adalah lelaki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah.”
Dalam hadith shahih yang lain disebutkan:
“Mahu kalian kuberi tahu tentang amal yang paling utama, yang paling baik di sisi Tuhan kalian, yang nilainya lebih baik daripada berinfaq emas dan perak dan lebih baik bagi kalian daripada bertemu musuh sehingga kalian melawan mereka dan mereka melawan kalian?” Para sahabat menjawab: “Mahu, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab: “Berzikirlah pada Allah”
Dalam sebuah hadith shahih yang lain ada menyebutkan: Seseorang mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata kepadanya: “ Wahai Rasulullah, sesungguhnya syari’at islam itu banyak yang menjadi tanggungan untukku, sementara usiaku sudah tua, maka khabarkanlah kepadaku sesuatu amal yang dapat aku jadikan sebagai sandaran.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Selalulah lidahmu basah dengan berzikir kepada Allah.”

Tersenyumlah


Jiwa yang sentiasa tersenyum akan melihat kesulitan dengan tenang sambil berusaha mengatasinya. Jika mereka melihat sebuah persoalan, mereka tersenyum. Mereka turut tersenyum ketika sedang berusaha mengatasi persoalan dan tetap tersenyum ketika mampu mengatasinya. Sebaliknya, jiwa yang muram akan melihat kesulitan dan kesedihan. Setiap kali menemui kesulitan, ia akan meninggalkannya atau membesar-besarkanny a, semangatnya mulai lemah dan membuat dalih dengan kata-kata:”kalau… .” “bila…” dan “jika…”.

Akhirnya, ia akan menyalahkan waktu, padahal waktu yang diumpatnya merupakan ciptaannya sendiri, yang berasal dari emosi dan kebiasaan buruknya. Dia menginginkan kejayaan di dunia ini, tetapi anehnya dia tidak mahu membayar harganya. Orang seperti ini ibarat seseorang yang hendak berjalan tetapi selalu dibayangi oleh seekor singa yang siap menerkam dirinya dari belakang.

Akibatnya, ia hanya menunggu langit menurunkan emasnya atau bumi mengeluarkan kandungan harta karunnya. Kesulitan-kesulitan ini merupakan perkara yang relatif. Yakni, segala sesuatu akan terasa sulit bagi jiwa yang kerdil, tapi bagi jiwa yang besar tiada istilah kesulitan baginya. Jiwa yang besar akan semakin besar kerana mampu mengatasi kesulitan-kesulitan itu. Sementara jiwa yang kecil akan semakin sakit kerana sering melarikan diri dari kesulitan itu.

Sesungguhnya kesulitan itu ibarat anjing yang liar. Apabila ia melihat anda, kemudian anda ketakutan dan lari, tentu ia akan menyalak dan mengejar anda. Sebaliknya, bila ia memandang anda, tapi anda berpura-pura tidak memerhatikannya dan menyorokkan pandangan mata anda kepadanya, tentu dia akan menyingkir dan merasa takut.

Hidayah Milik Allah


Hidayah, betapa mahalnya ia jika dibicarakan dalam rentang hidup anak manusia. Terlebih jika hidayah itu datang secara tiba-tiba, tanpa ada rencana dan tidak ada proses untuk mendapatkan yang direka. la begitu saja datang lalu tergetarlah episod hidup yang penuh dengan taburan cahaya.

Hidayah Allah SWT itu tidak diberikan kepada manusia berdasarkan kedudukan, keluarga, pangkat, dan harta mereka. Melainkan hidayah dan cahaya Allah itu diberikan kepada orang yang dikehendaki oleh-Nya dan berhak untuk menerimanya. Hidayah Allah dikerahkan bagi orang yang memang ingin mencarinya dan bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya.

Siapa saja yang ditunjukkan oleh Allah sebuah hidayah di dalam hatinya, kemudian dia berjuang dengan sungguh-sungguh di jalan Allah, dia rela Allah sebagai Tuhannya, dan menjadikan Allah sebagai tujuannya, maka keredhaan-Nya telah dipancarkan ke dalam matanya dan Allah memberikannya suatu petunjuk.

Untuk mencapai hidayah itu bukan hanya dengan banyak beribadah, tetapi harus disertai dengan keimanan dalam hati. Bukanlah iman kalau hanya dengan menyendiri dan berangan-angan, tetapi iman adalah yang bersemayam di dalam hati dan direalisasikan dengan amal perbuatan. Kebanyakan orang yang ahli ibadah zaman sekarang ini salah persepsi ketika mereka mengira bahawa jalan untuk mencapai hidayah adalah dengan banyak beribadah. Sehingga, mereka mengada-adakan suatu ibadah yang tidak diajarkan oleh Allah dalam syari'atnya.

Sesungguhnya Allah mengetahui bahawa di dalam hatimu ada keinginan untuk
mendapatkan hidayah dan juga mengetahui apa yang tersembunyi di balik jiwamu bahawa kamu menginginkan- Nya. Kalau kamu bersungguh-sungguh mencari hidayah, pastilah Allah akan membukakan dan memberikan untukmu sesuatu yang tidak terlintas dalam hatimu. Janganlah di dalam kehidupan ini kamu kikir memberikan kemudahan, ilham, bimbingan, pemberian, cahaya dan keberkahan. Sesungguhnya Allah akan mendatangkan hidayah dari salah satunya.

.

Jangan Bersedih, Perbanyakkanlah Istighfar, Sesungguhnya Tuhan Kamu Maha Pengampun


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam surah Nuh, ayat 10 -12:
“Maka aku katakan kepada mereka: ‘ Mohon ampunlah kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Nescaya Dia akan menirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan perbanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula di dalamnya untukmu sungai-sungai.”
Perbanyakkanlah istighfar, agar anda menemui jalan keluar, memperolehi ketenangan batin, rezeki yamh halal, zuriat yang soleh dan hujan lebat yang membawa berkah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam surah hud, ayat 3:
“Dan, hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepadaNya.(jika kamu mengerjakan yang demikian), nescaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya…”
Dalam sebuah hadith disebutkan:
"Barangsiapa memperbanyakkan istighfar, nescaya Allah akan menjadikan baginya untuk setiap kesempitan dan jalan keluar untuk setiap kesulitan.”
Anda harus banyak membaca Sayyidul Istighfar, sebagaimana termuat dalam hadith Shahih Al-Bukhari:
“Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, Tiada Tuhan selain Engkau, Engkaulah yang telah menciptakan aku dan aku adalah hambaMu. Aku berada dalam janji untuk mentaatiMu sejauh kemampuanku. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan yang telah kuperbuat. Aku mensyukuri semua nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan aku mengakui semua dosa yang telah aku perbuat, maka ampunilah diriku kerana tiada lagi yang dapat mengampuni dosa, selain Engkau.”

Jangan Bersedih, Kerana Kelapangan Pasti Datang



Dalam sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Imam At-Tarmidzi disebutkan bahawa:
“Sebaik-baik ibadah adalah menunggu datangnya dari Allah (sambil bersabar tatkala tertimpa musibah).”
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“…bukankah Subuh itu sudah dekat?” (Hud: 81)
Bangkitlah segera, wahai orang-orang yang bersedih dan cemas. Sesungguhnya matahari telah terbit dan sambutlah kemenangan yang dianugerahkan oleh Yang Maha Memberi Kemenangan.
Pepatah Arab menyebutkan: “ Jika seutas tali sudah sangat meregang, nescaya ia akan segera putus!” Maksudnya: Apabila sesuatu persoalan semakin rumit, maka tunggulah jalan keluarnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“…barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, nescaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (Ath-Thalaq: 2)
“…dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, nescaya Allah akan menjadikan baginya jalan kemudahan dalam urusannya. (Ath-Thalaq: 4)
Pepatah lain menyebutkan:
Kepedihan akan selalu mendera
pada saatnya nanti pasti akan pergi.
Pepatah lain berkata:
Begitu banyak banyak orang lega
setelah putus asa mendera
begitu banyak pula orang berbahagia
setelah dia putus asa.
Siapa pun yang berprasangka baik
.
Kepada pemilik ‘Arasy
maka ia akan memetik buah manis
di tepi sungai yang jernih.
Dalam sebuah hadith Qudsi disebutkan:
”Aku sesuai prasangka hambaKu terhadap diriKu, maka silakan dia berprasangka terhadap dirKu sesuai dengan kehendaknya.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi tentang keimanan mereka dan telah meyakini bahawa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkanlah orang-orang yang AKmi kehendaki…” (Yusuf: 110)
“Maka sesungguhnya bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. (Al-Insyirah: 5-6)
Sebahagian mufassirin berkata – sebahagian daripada mereka menganggap perkataan ini sebagai hadith:
“Satu kesulitan tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“… barangkali Allah mengadakan sesudah itu suatu hal yang baru.” (Ath-Thalaq: 1)
“…ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Al-Baqarah: 214)
“… sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-A’raf: 56)

Dalam sebuah hadith shahih disebutkan:
“Ketahuilah, bahawa pertolongan itu bersama dengan kesabaran dan kelapangan itu selalu bersama kesulitan.”

Seorang penyair berkata:
Jika persoalan terasa semakin menyesakkan
tunggulah datangnya kelegaan.
kerana sesuatu yang paling dekat
dengan persoalan yang menyesakkan
adalah kelegaan.
Penyair lain pula berkata:
Sungguh aku telah menahan diri
setelah Ibnu ‘Anbas,
sedangkan air mata
semakin mendesak untuk tercurah.
Kebahagiaan pasti tiba
orang yang jahat pasti tercela
segala keburukkan telah menimpa
saatnya kelegaan menjelma.

Penyair yang lain mengatakan:
Banyak mata terbelalak
sementara yang lain terpejam.
Di dunia nyata sesuatu bisa ada, bisa juga tiada.
Maka lemparkan sekuat tenaga kesedihan hatimu
sebab kesedihanmu
hanya akan membuatmu menjadi gila.
Sesungguhnya Tuhanmu telah menyiapkan
apa yang kau perlukan esok hari dan
kau akan menjumpai kecukupan itu
ketika kau menjalaninya.
Penyair lain pula mangatakan:
Biarkan segala sesuatu
mengalir seirama takdir.
Jangan sekali-kali kau tidur
kecuali tetap waspada.
Saat kau kerdipkan matamu kau akan tercengang
ternyata Allah telah mengubah keadaan.

Renungan
Jangan bersedih, kerana kesedihan itu akan membuat harta yang tersimpan di dalam gudang dan di istana-istana anda yang indah dan megah, dan di dalam kebun-kebun anda yang menghijau itu hanya akan menambahkan kesedihan, kedukaan dan keputusasaan anda sahaja
Jangan bersedih! Sesungguhnya ubat-ubatan yang diberikan oleh doktor, dan ubat yang dijual di farmasi, dan pemeriksaan seorang doktor tidak banyak membantu diri anda. Apalagi bila anda masih menanamkan kesedihan dalam hati, menggantungkan kesedihan di dalam kelopak mata, membiarkan diri anda untuk dimasuki kesedihan itu, dan menyusupkannya di bawah kulit, maka semua itu akan sia-sia.
Jangan bersedih! Kerana anda masih memiliki doa,anda bole bersimpuh di hadapan pintu-pintu Tuhan Yang Maha Kuasa, memohon agar diberikan ketenangan. Anda juga masih memiliki waktu sepertiga akhir malam sebagai waktu mustajabah dan masih memiliki waktu untuk menyerahkan segalanya kepada Allah dalam sujud
Jangan bersedih! Kerana Allah telah menciptakan bumi dengan segala isinya untuk anda,telah menumbuhkan taman-taman yang memberikan permandangan indah, kebun-kebun yang berisi tumbuh-tumbuhan yang indah, rimbun dan taman-taman dengan tumbuh-tumbuhan yang indah untukmu, pohon-pohon kurma yang mempunyai mayang yang bersusun-susun dan menjulang tinggi, bintang-bintang yang bercahaya, hutan belantara dan sungai-sungai yang jernih mengalir. Mangapa anda masih bersedih?
Jangan bersedih! Kerana anda masih dapat meneguk air yang jernih, dapat menghirup udara yang segar, dapat berjalan di atas kedua kaki yang sihat, dan anda juga masih dapat tidur dengan nyenyak pada malam hari.

Jangan Bersedih, Setiap Sesuatu Telah Ada Qadha dan Qadarnya


Segala sesuatu itu akan terjadi sesuai dengan ketentuan qadha dan qadar. Ini merupakan keyakinan orang-orang Islam dan para pengikut setia Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tiada sesuatu pun yang terjadi di dalam dunia ini, kecuali dengan sepengetahuan Allah, izinNya dan ketentuanNya.


” Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis di dalam kitab (Loh Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al-Hadid: 22)

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Al-Qamar: 49)

“Dan, sungguh akan Kami berikan cubaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan. Kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 155)

Dalam sebuah hadith disebutkan:
“Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin! Semua urusannya mengandungi kabajikan baginya dan hal ini tidak berlaku bagi seorang pun, kecuali orang mukmin. Jika mendapat kegembiraan, ia bersyukur, maka ini baik baginya; dan jika ditimpa musibah, ia bersabar, maka ini pun baik baginya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda: “Bila kamu hendak meminta, mintalah kepada Allah. Bila kamu hendak meminta tolong, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, sekiranya seluruh manusia berkumpul untuk mendatangkan suatu manfaat kepadamu, nescaya mereka tidak dapat melakukannya, kecuali jika Allah telah menetapkan untukmu; dan sekiranya mereka berkumpul untuk dapat mendatangkan suatu mudarat kepadamu, nescaya tidak dapat melakukannya, kecuali jika Allah telah menetapkan untukmu pena telah diangkat dan lembaran telah mengering.”

Dalam sebuah hadith shahih yang lain disebutkan: “ Ketahuilah bahawa semua nikmat atau musibah yang telah ditetapkan Allah bakal mengenaimu, pasti tidak akan meleset darimu; dan semua nikmat atau musibah yang telah ditetapkan Allah bakal meleset darimu, pasti tidak akan mengenaimu.”

Juga diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “ Wahai Abu Hurairah, apa pun yang engkau temui, tinta (dakwat) telah mengering.” Baginda juga bersabda: “Segeralah melakukan hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan Allah dan janganlah bersikap lemah. Jika kamu ditimpa musibah, janganlah berkata: ‘jikalau aku melakukan begini, tentu akan begini dan begitu’ ; tetapi katakanlah: ‘Apa yang telah ditakdirkan dan dikehendaki Allah, pasti terjadi.”

Dalam sebuah hadith shahih yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, baginda bersabda: “Allah tidak menerapkan qadha’ bagi seorang hamba, kecuali qadha’ itu baik bagi dirinya.”

Pernah sebuah pertanyaan tentang kemaksiatan dilontarkan kepada Syeikhul Islam Idnu Taimiyyah: “Apakah maksiat itu baik bagi seorang hamba?” dia menjawab: “Ya! Namun dengan demikian syarat dia harus menyesali, bertaubat, beristigfar dan menghentikan perbuatan itu.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “…boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bole jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Segala sesuatu telah Aku takdirkan silakan engkau mencela atau meninggalkan Aku. Takdir akan terus berjalan sebagaimana jarum menusuki lubang jahitan.

Jangan Bersedih, Tuhan Maha Pengampun dan Maha Penerima Taubat


Tidakkah cukup melegakan dada anda, menghilangkan kesedihan dan ketakutan anda, serta membahagiakan diri anda dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam surah Az-Zumar, ayat 53:
“Katakanlah : Hai hamba-hambaKu yang melapmaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.”
Allah menyapa orang-orang yang melampaui batas dengan kalimah: “Ya ‘ibaadii (Wahai hamba-hambaKu).” Adapun tujuannya, tidak lain adalah untuk menyatukan hati para hambaNya dan menyentuh perasaan mereka agar mendengarkan ayat tersebut dengan baik. Allah mengkhususkan panggilanNya itu untuk orang-orang yang melampaui batas kerana mereka merupakan golongan manusia yang paling banyak melakukan dosa dan kesalahan. Maka, bagaimana pula panggilan terhadap orang selain mereka yang juga sering melakukan kesalahan dan dosa?
Dalam ayat tersebut, Allah juga melarang hambaNya daripada berputus asa dalam memohon ampunan Allah. Allah mengkhabarkan pula bahawa Dia akan mengampuni semua dosa siapa saja yang bertaubat kepadaNya, baik dosa yang dikerjakan secara samara-samar mahupun yang terang-terangan. Seterusnya, Allah menyifati dirinya dengan dhamir mu’akkad (kata ganti untuk penegasan) dan “al” (lam ta’rif) yang menunjukkan kesempurnaan sifat, ketika Dia berfirman:
Tidakkah anda merasa gembira dan bahagia dengan firman Allah Subhanu wa Ta’ala:
“Dan, (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri mereka sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak akan meneruskan perbuatan keji itu, sedangkan mereka mengetahui. “(Ali-‘Imran : 135)
Dan juga firmanNya:
“Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampun kepada Allah, nescaya dia mendapati Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa’: 110)
FirmanNya yang lain:
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, nescaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu) yang kecil dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (syurga).” (An’Nisa’: 31)
FirmanNya yang lain:
“…sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa’: 64)
“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat, beriman, beramal soleh, kemudian tetap di jalan yang benar. (Thaha: 82)
Tatkala Nabi Musa ‘Alaihissalam secara tidak sengaja membunuh seseorang, maka dia berkata:
“…Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, kerana itu ampunilah aku.” (Al-Qashash: 16)
Juga firman Allah Ta’ala yang menjelaskan tentang Nabi Daud ‘Alaihissalam setelah menyatakan taubatnya dan Allah Ta’ala mengampuninya:
“Maka Kami ampuni baginya kesalahan itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang sangat dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.” (Shad: 25)
Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengasih dan Maha Mulia! Bagaimana tidak, Dia masih menawarkan rahmat dan magfirahNya kepada orang-orang yang mereka yakini triniti (Allah itu salah satu dari Tuhan yang tiga). Firman Allah Ta’ala tentang mereka:
“Sesungguhnya kafirlah orang yang mengatakan :’ Bahawasanya Allah adalah salah satu daripada yang tiga’, padahal sekali-kali tidak tidak ada llah lain selain Allah Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepadaNya! Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Ma’idah: 73-74)
Dalam sebuah hadith shahih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Allah Tabaarakawa Ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam, selama kalian mahu memohon dan mengharapkan (keampunanKu), tentu akan Aku ampuni semua dosa-dosa kalian dan Aku tidak peduli (meskipun dosa kalian banyak). Wahai anak Adam, sekalipun dosa-dosa kalian menupuk setinggi langit, kemudian kalian memohon ampunanKu, tentu akan Aku ampuni dosa kalian dan tidak Aku pedulikan (meskipun dosa yang kalian kerjakan itu dosa besar). Wahai anak Adam, sekiranya kalian datang kepadaKu dengan dosa sepenuh isi bumi, kemudian kalian mati dengan tidak menyekutukanKu dengan apapun, Aku akan memberikan ampunan sepenuh isi bumi kepada kalian.”
Dalam sebuah hadith shahih yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah Ta’ala membuka tanganNya pada waktu tengah malam untuk menerima taubat orang pada siang hari dan membuka tanganNya pada waktu siang untuk menerima taubat orang yang melakukan dosa pada malam hari, sehingga matahari terbit dari sebelah barat.”
Dalam sebuah hadith qudsi disebutkan:
“Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian berbuat dosa, baik pada malam hari mahupun siang hari, sedang Aku mengampuni semua dosa-dosa iti. Oleh kerana itu, mohonlah ampunan kepadaKu, nescaya akan Aku ampuni kalian.”
Dalam sebuah hadith shahih yang lain disebutkan:
“Demi Dzat yang menggenggam jiwaku, sekiranya kalian tidak pernah berbuat dosa, nescaya Allah akan mematikan kalian dan menggantikan dengan kaum yang berbuat dosa, lalu mereka memohon ampun kepada Allah dan Allah pun mengampunkan mereka.”
“Demi Dzat yang menggenggam jiwaku, sekiranya kalian tidak pernah berbuat dosa, sungguh aku khuatir kalian akan melakukan hal yang lebih berbahaya daripada sekadar dosa, iaitu ujub (kesombongan).”
Juga disebutkan dalam hadith shahih yang lain:
“Semua orang di antara kalian pasti pernah melakukan dosa dan sebaik-baik orang melakukan dosa adalah mereka yang mahu bertaubat.”
Pada kesempatan yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
“Sungguh Allah sangat senang dengan taubat hambaNya ketika dia bertaubat kepadaNya. Bahkan lebih senang daripada seseorang yang kehilangan untanya di tengah gurun pasir, sedangkan di atas unta itulah terdapat segala perbekalan makanan dan minuman sehingga ia merasa putus asa. Selanjutnya, dia menuju sepohon dan berbaring lesu dalam naungan rendangnya. Dia merasa putus asa dengan untanya. Ketika dia merenungi nasibnya, tiba-tiba untanya telah berdiri dekatnya dan segeralah ia meraih tali kekangnya. Bersangatlah gembira dia berkata; “Ya Allah, Engkau adalah hambaKu dan aku adalah Tuhanmu!’ bersangatan gembiranya, dia sampai salah ucap seperti itu.”
Dalam riwayat shahih yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba yang melakukan dosa, kemudian berkata: ‘Ya Allah, ampunilah dosaku, kerana tiada lagi yang dapat mengampuni dosa, kecuali Engkau.’ Setelah itu kembali malakukan dosa dan berkata: ‘ Ya Allah, ampunilah dosaku, kerana tiada yang dapat mengampuni dosa, kecuali Engkau’, kemudian dia melakukan dosa, lalu berkata: : ‘ Ya Allah, ampunilah dosaku, kerana tiada yang dapat mengampuni dosa, kecuali Engkau’, maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “HambaKu tahu bahawa dirinya mempunyai Tuhan yang boleh menyeksa hambaNya kerana berbuat dosa atau mengampuni dosa hambaNya, maka silakan hambaKu melakukan apa yang dia sukai.”
Maksud semua hadith ini bahawa Allah akan mengampuninya selama hamba itu bertaubat, meminta ampun dan menyesali perbuatannya.

Singkirkan Kegelisahan


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam surah Al-Insyirah, ayat 1:

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu.”

Ayat ini bersifat umun untuk setiap orang yang menerima kebenaran, yang melihat cahaya dan yang menempuh hidayah. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam, lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingati Allah…” (Az-Zumar: 22)

Maka ayat tersebut menjelaskan bahawa kebenaran akan melapangkan dada dan kebatilan akan membuat hati menjadi keras.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, nescaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam…” (Al-An-am: 125)

Ini menandakan bahawa Islam merupakan suatu tujuan yang hanya akan dapat dicapai oleh orang yang memang dikehendaki Allah.

“…janganlah kamu bersedih sesungguhnya Allah bersama kita…” (At-Taubah: 40)

Ayat ini sering diucapkan oleh orang yang sangat yakin dengan pengawasan, perlindungan, kasih-sayang dan pertolongan Allah Ta’ala.

“(Iaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, kerana itu takutlah kepada mereka.’ Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.’” (Ali-‘Imran : 173)

Yakni; bahawa kecukupanNya pasti mencukupi anda dan perlindunganNya pasti akan menjaga anda.

“Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.” (Al-Anfal: 64)

Dan, siapa pun yang menempuh jalan tersebut akan memperoleh kemenangan sebagaimana yang disebutkan dalam ayat tersebut.

“Dan bertawakkallah kamu kepada Allah Yang Maha Hidup (Kekal) Yang tidak mati…” (Al-Furqan: 58)

Yakni; sesuatu selain Allah pasti akan mati, tidak akan hidup selamanya, akan lenyap dan tidak kekal abadi. Dan darjatnya rendah dan tiada kemuliaan.

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tidaklah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipudayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebaikan.” (An-Nahl: 127-128)

Ini adalah janji khusus yang Allah berikan kepada para kekasihNya, yakni dengan cara selalu menjaga, mengawasi, membantu dan melindungi mereka sesuai dengan tingkat ketakwaan dan jihad mereka.

“Dan, janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (darjatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali-‘Imran: 139)

Maksudnya; adalah ketinggian tingkat ubudiyyah dan kedudukannya di sisi Allah.

“Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat mudarat kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan celaan saja, dan jika mereka berperang dengan kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah). Kemudian mereka tidak mendapat pertolongan.” (Ali-‘Imran: 111)

“Allah telah menetapkan: ‘Aku dan rasul-rasulKu pasti menang.’ Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al-MIjadilah: 21)

“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kegidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (Hari Kiamat).” (Al-Mu’min: 51)

Ini merupakan janji Allah yang tidak akan diingkari dan tidak akan ditunda.

“Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat kan hamba-hambaNya. Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipudaya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk.” (Al-Mu’min: 44-45)

“…dan hanya kepada Allahlah orang-orang mukmin bertawakkal.” (Ali-‘Imran: 122)

Janganlah bersedih! Anggap sahaja diri anda tidak akan hidup kecuali sehari saja, maka mengapa anda harus bersedih, marah dan kesal pada hari ini?

Dalam sebuah atsar disebutkan:

“Jika engkau berada pada pagi hari, janganlah menunggu datangnya waktu petang. Jika engkau berada pada waktu petang, janganlah menunggu datangnya pagi.”

Ertinya: Hiduplah dalam batasan hari ini sahaja. Janganlah mengingat-ingat masa lalu, dan jangan pula merasa risau dengan masa yang akan datang.

Seorang penyair berkata:

Masa lalu biarlah berlalu
dan harapan belum menjadi kenyataan.
Maka manfaatkanlah waktu
saat kau sedang menjalaninya.

Menyibukkan diri dengan masa lalu, mengingatinya dan merenungi berbagai musibah yang telah berlaku dan yang telah berlalu, adalah merupakan perbuatan bodoh dan gila (tiada bermanfaat).

Pepatah Cina ada menyebutkan: “Janganlah anda menggam,barkan sebuah jambatan sebelum anda melaluinya.”

Maksudnya: Jangan anda menggambarkan suatu peristiwa, termasuk keburukan dan bencana yang ada di dalamnya sehingga anda sendiri mengalaminya dan merasakannya.

Salah seorang ulama salaf pernah mengatakan: “ Wahai anak Adam, hidupmu itu tiga hari sahaja: Hari kelmarin yang telah berlalu, hari esok yang belum tiba, dan hari ini saat kau menjalaninya, maka bertakwalah kepada Allah dalam menjalaninya!”

Bagaimana mungkin orang yang menanggung beban kesedihan masa lalu dan kecemasan terhadap masa depan dapat hidup tenang hari ini? Bagaimana mungkin orang yang selalu mengingat-ingati kembali sesuatu yang telah berlaku serta merasa kesedihan dan menyakitkan ke atasnya adalah tidak mendatangkan sebarang manfaat baginya.

Adapun maksud perkataan: “Jika engkau berada pada pagi hari, janganlah menunggu datangnya waktu petang. Jika engkau berada pada waktu petang, janganlah menunggu datangnya pagi”, iaitu agar anda tidak terlalu banyak berangan-angan, menunggu ajal yang akan menjemput anda pada bila-bila masa sahaja dengan memperbanyakkan bekalan, dan selalulah berbuat yang terbaik. Janganlah anda menyibukkan diri dengan berbagai target masa depan dan kesedihan masa lalu, kerahkan segala kemampuan untuk hari ini, berbuatlah semaksimum mungkin, dan pusatkan tumpuan anda untuk melakukan sesuatu dengan cara meningkatkan kualiti moral, kerjakan dengan baik ibadah wajib anda hari ini, lalu tambahkan dengan ibadah nawafil (sunat). Maksimakan apa yang ada di hadapan anda, berusahalah untuk selalu memperbaiki perilaku anda, perhatikanlah kesihatan anda dan perbaikilah akhlak anda terhadap orang lain.

Renungan
Jangan bersedih, kerana qadha’ telah ditetapkan, sesuatu yang ditakdirkan telah terjadi, pena-pena talah mengering, lembaran-lembaran catatan ketentuan telah pun dilipat, dan setiap perkara telah ditetapkan! Betapapun, kesedihan anda tidak dapat mendahulukan atau menta’khirkan kenyataan yang terjadi, dan tidak juga mampu menambahkan atau mengurangi apa yang telah ditetapkan.

Jangan bersedih, sebab kesedihan itu akan mendorong anda untuk menghentikan putaran roda zaman, menyelubungi matahari agar tidak terbit, memutar jarum jam kembali ke masa lalu, berjalan ke belakang dan mengembalikan aliran sungai ke sumbernya semula!

Jangan bersedih, kerana orang yang merasa sedih itu bagai sungai, muaranya di laut dan mengalir ke laut kembali. Ia juga ibarat seorang wanita yang mengurai pintalan tenun yang kuat pintalannya, ibarat seorang yang meniup bejana dari kulit yang berlubang, dan ibarat seseorang yang menulis di atas air dengan tangannya.

Jangan bersedih, sebab usia anda yang sebenarnya adalah kebahagiaan dan ketenangan anda. Oleh sebab itu, jangan habiskan usia anda dalam kesedihan, jangan biarkan malam-malam anda dalam kecemasan, jangan anda tukar kebahagiaan dengan ketakutan, dan jangan mensia-siakan waktu anda yang masih tersisa, kerana sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang mensia-siakan waktu.

Kendalikan Perasaan Anda


Emosi dan perasaan seseorang akan bergolak disebabkan dua perkara; kegembiraan yang memuncak dan musibah yang berat. Dalam sebuah hadith Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya aku (Nabi) melarang dua suara yang dungu dan buruk, iaitu suara ketika sedang mendapatkan nikmat (bersuka ria) dan suara ketika tertimpa musibah (meratap).”
Dan Allah Ta’ala berfirman:
"(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu…” (Al-Hadid: 23)
Maka dari itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam besabda:

“Sesungguhnya kesabaran (yang sempurna pahala) adalah kesabaran ketika mendapat benturan (musibah) pertama.
Oleh kerana itu, siapa yang mampu menguasai perasaannya dalam setiap peristiwa, baik yang memilukan dan juga yang menggembirakan, maka dia berhak mendapat penghargaan berupa hati yang teguh dan stabil serta memperoleh kebahagiaan yang tenang dan kenikmatan kerana berjaya mengalahkan nafsu. Allah menyebutkan bahawa manusia adalah makhluk yang senang bergembira dan berbangga diri. Namun, menurut Allah,ketika ditimpa kesusahan manusia mudah berkeluh kesah,dan ketika mendapatkan kebaikan manusia menjadi kikir kecuali orang-orang yang menunaikan solat. Maka mereka itulah orang-orang yang mampu berdiri seimbang di antara gelombang kesedihan yang keras dengan dan luapan kegembiraan yang tinggi. Dan mereka itulah yang akan sentiasa bersyukur tatkala mendapat kesenangan dan bersabar tatkala ditimpa kesusahan.
Sesungguhnya emosi yang tidak terkendali hanya akan meletihkan, menyakitkan dan meresahkan diri sendiri. Sebab, ketika seorang sedang marah misalnya, maka kemarahannya akan meluap dan sukar dikendalikan. Dan itu akan membuat seluruh tubuhnya gementar, mudah memaki sesiapa sahaja, seluruh isi hatinya tertumpah ruah, dan ia akan cenderung bertindak mengikut nafsunya. Sekiranya dia mengalami kegembiraan, dia akan menikmatinya secara berlebihan, mudah lupa diri dan tidak ingat lagi siapa dirinya.
Begitulah manusia; ketika sedang bermusuh dengan seseorang, dia cenderung mengherdik dan mencelanya, dan melupakan seluruh kebaikan orang yang tidak dia sukai begitu sahaja. Demikian pula ketika dia menyukai orang lain, dia akan segera melupakan kekurangannya, bahkan orang itu akan terus dia puja dan sanjung setinggi-tingginya seolah-olah tidak ada cacat-celanya. Dalam sebuah atsar disebutkan:
“Cintailah sesuatu yang kamu cintai sekadar saja, kerana biasa jadi suatu saat nanti ia akan menjadi sesuatu yang kamu benci; dan bencilah sesuatu yang kamu benci sekadarnya sahaja, kerana biasa jadi pada suatu saat nanti ia akan menjadi sesuatu yang kamu cintai.”
Dalam sebuah hadith, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Aku memohon kepadaMu (Ya Allah) agar aku selalu boleh bersikap sederhana, baik ketika marah mahupun senang.”
Barangsiapa mampu mengawal emosinya, mengendalikan akal dan menimbang segalanya dengan benar, maka ia akan mudah melihat kebenaran, mengetahui petunjuk dan memutuskan sesuatu dengan benar.
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan tekah Kami turunkan bersama Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan…” (Al-Hadid)

Sesungguhnya Islam datang dengan membawa misi keadilan, keseimbangan, akhlak dan menuntun ke jalan yang lurus, sebagaimana Islam juga datang dengan membawa manhaj yang lurus, syariat yang diredhai dan agama yang suci.
“Dan demikianlah (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan…” (Al-Baqarah: 143)
Oleh kerana itu, keadilan merupakan tuntutan yang diutamakan sebagaimana ia diperlukan dalam penerapan hukum. Sesungguhnya agama ini dibina atas dasar kebenaran dan keadilan. Yakni; benar dalam memberikan berita-berita Ilahi dan adil dalam menetapkan sesuatu hukum, perkataan, perbuatan dan akhlak.
“Telah sempurnalah kalimah Rabbmu (Al-Qur’an) sebagai kalimah yang benar dan adil…” (Al-An’am: 15)

Cintailah Rasulullah, Nescaya Anda Akan Menemui Kebahagiaan


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam diutus kepada umat manusia dengan membawa dakwah rabbaniyah dan tidak mempunyai kepentingan terhadap duniawi, tidak pernah dianugerahi gudang harta dan hamparan kebun buah yang luas dan tidak pula tinggal di istana yang megah perkasa. Namun demikian, ramai orang yang mencintai beliau bersumpah setia mengikuti ajaran yang dibawanya. Dan mereka tetap teguh memegang janji meskipun menghadapi pelbagai kesulitan dan ancaman. Pada saat itu, mereka adalah golongan minoriti, dan termasuk golongan yang tersingkir, belum lagi berbagai ancaman yang selalu mengintai dari kalangan orang-orang yang berada disekelilingnya. Akan tetapi, mereka tetap setia dan mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat pada ketika itu diboikot oleh masyarakatnya, ekonomi disekat, kehormatan mereka dihina, dimusuhi oleh kaum kerabat mereka sendiri dan mereka disakiti oleh masyarakatnya. Meskipun demikian, kecintaan mereka terhadap Muhammad tidak pernah goyah sejengkal pun.
Di antara mereka, ada yang pernah dijemur di tengah padang pasir yang panas, dikurung dalam penjara bawah tanah, dan diseksa dengan berbagai seksaan. Namun demikian, mereka tetap mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Segala yang mereka punyai seperti tempat tinggal, pekerjaan, keluarga dan harta telah dirampas. Mereka diusir dari tempat permainan mereka semasa kecil, tempat bergurau-senda semasa muda dan tempat keluarga mereka bersenandung mencurahkan kasih sayang. Meskipun demikian, ternyata mereka tetap mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Kaum mukminin seringkali diseksa kerana dakwah yang mereka sampaikan. Jiwa mereka digoncang keras hingga hati mereka seakan naik ke tenggorokan, dari kerana sangat kerasnya cubaan yang menimpa mereka. Namun, kerana tetap berprasangka baik terhadap Allah, maka mereka pun tetap sangat mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Para pemuda mereka diancam dengan pedang terhunus, namun mereka tidak gentar sedikit pun. Bagi mereka, ratusan pedang di atas kepala mereka ibarat ranting pohon yang rendang.
Naungan pedang bagai rendang dedaunan
Di sekitarnya bunga tumbuh menghijau.
Pada masa itu setiap pemuda bersiap-sedia berangkat ke medan perang dengan gagah berani. Mereka pergi mendatangi kematian laksana sebuah temasya atau pesta di malam hari raya. Semuanya itu, adalah didorong oleh rasa kecintaan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Seorang sahabat pernah diutus untuk membawa sepucuk surat masuk ke kawasan musuh, padahal sahabat itu sedar tentang risikonya bahawa kemungkinan dirinya tidak dapat kembali lagi ke dunia. Namun, dia tetap melakukan tugas tersebut. Terdapat pula seorang sahabat yang ketika diminta menjalankan suatu tugas, dia menyedari bahawa tugas itu adalah tugasnya yang terakhir. Namun dia tetap pergi dengan sukacitanya menjalankan tugas tersebut. Semua perkara yang mereka lakukan itu adalah kerana kecintaan mereka yang besar terhadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Akan tetapi, mengapa mereka begitu mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyukai dengan risalah yang baginda bawa, merasa tenteram dengan manhajnya, sangat gembira menyambut kedatangannya, dan mampu melupakan semua kesakitan, kesulitan, tentangan dan ancaman demi pengikutnya?
Semuanya itu adalah kerana mereka dapat melihat pada diri Nabi Muhammad terdapat semua makna kebaikan dan kebahagiaan, dan juga tanda-tanda kebajikan serta kebenaran. Baginda adalah petunjuk jalan bagi siapa sahaja yang menghadapi pelbagai masalah besar. Bahkan, sentuhan kelembutan adalah kasih-sayangnya, mampu memadamkan semua gejolak hati mereka, tutur katanya mampu menyejukkan dada siapa sahaja, dan dengan risalahnya mampu menghangatkan roh mereka.
Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berjaya menuangkan sifat keredhaan ke dalam jiwa setiap sahabatnya. Maka tidak mustahil apabila mereka tidak lagi memperhitungkan kesakitan yang mereka hadapi dalam menyampaikan dakwah. Dalam diri mereka telah dipancarkan keyakinan akan keagungan Islam, sehingga mereka melupakan setiap kelukaan, tekanan dan kesengsaraan itu.
Baginda berjaya meluruskan hati nurani mereka dengan tuntutannya, menyinari mata hati mereka dengan cahayanya, menyingkirkan unsur-unsur jahiliyyah dari leher mereka, pelana berhala telah turun dari punggung mereka, menanggalkan semua kalung kemusyrikan dari leher mereka, dan memadamkan semua api kedengkian dan permusuhan dari roh-roh mereka. Dan beliau juga berjaya menuangkan air keyakinan kedalam perasan mereka, sehingga jiwa rga mereka menjadi tenteram, badan mereka terasa nyaman, hati mereke terasa tenang, dan otot-otot saraf mereka terasa rileks.
Para sahabat menemui kenikmatan hidup ketika bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka merasakan hangatnya kasih-sayang dan ketulusan hati selama berdekatan dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka dapat merasakan ketenteraman ketika berada di bawah payung ajarannya, mereka memperolehi keselamatan dengan mematuhi perintahnya dan mereka mendapat kekayaan batin dengan meneladai sunnah-sunnahnya.
“Dan, tidaklah Kami utuskan kamu kecuali menjadi rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiya’: 107)
“…dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Asy-Syura: 52)
“… dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap-gelita kepada cahaya…” (Al-Ma’idah: 16)
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al-Jumu’ah: 2)
“…dan membunag mereka dari beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka…” (Al-A’raf: 157)
“…penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu…” (Al-Anfal: 24)
“… dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya…” (Ali-‘Imran: 103)
Sesungguhnya mereka benar-benar telah merasai kebahagiaan sejati ketika bersama pemimpin dan suri tauladan mereka. Maka dari itu, mereka berhak berbahagia dan bergembira.
Wahai malam yang menakutkan
mengapa engkau tidak kembali lagi.
Masamu telah berlalu
dan telah menjadi masa lalu.
Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada si pembebas akal manusia dari belenggu-belenggu penyimpangan, dan si penyelamat jiwa dari malapetaka kesesatan. Kurniakanlah redhaMu kepada para sahabat yang mulia sebagai ganjaran atas apa yang mereka perjuangkan.

Singkirkan Kebosanan Dari Hidup Anda


Orang yang hidup mengekang diri dengan satu gaya hidup sudah tentu akan dilanda kebosanan. Ini adalah kerana, pada dasarnya jiwa manusia memang memiliki kecenderungan mudah merasa bosan. Tabiat dasar setiap manusia adalah tidak suka berada dalam satu keadaan yang sama. Oleh kerana itulah, maka Allah memutar zaman dan tempat bagi manusia, memberikan berbagai bentuk makanan, minuman, dan menciptakan makhluk yang beraneka ragam. Ada malam dan siang, ada dataran tinggi dan rendah, ada putih dan hitam, ada panas dan dingin dan ada manis dan masam. Keberagaman dan perbezaan ini seringkali disebut Allah dalam beberapa firmanNya. Di antaranya Allah menyebutkan bahawa:
“…dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya…” (An-Nahl: 69)
“…dari pohon kurma yang bercabang dan tidak bercabang…” (Ar-Ra’d: 4)
“…yang serupa (bentuk dan warnanya) tetapi tidak sama (rasanya)…” (Al-An’am: 141)
“… dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis (seperti jalan yang berwarna) putih dan merah yang beraneka warnanya…” (Fathir: 27)
“… dan masa-masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di anatara manusia…” (Ali-‘Imran: 140)
Malahan Bani Israil pernah merasa bosan dengan makanan mereka yang paling baik dan mengeluh pada Allah.
“…kami tidak boleh sabar (tahan) dengan satu macam makana saja…” (Al-Baqarah: 61)
Al-Makmun suatu ketika pernah dihinggapi rasa bosan di mana kadang-kala beliau membaca sambil duduk, sesekali dengan berdiri, dan pada saat yang lain sambil berjalan. Dan kerana itu pula dia pernah berkata: “Jiwa manusia itu dipenuhi dengan kebosanan.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah berfirman:
“(Iaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring…” (Ali-‘Imran: 191)
Siapa yang bersedia merenung sejenak dan memikirkan sesuatu yang berhubung dengan ibadat, tentu dia kan menemui berbagai jenis dan ragam dalam bentuk dan makna yang terkandung di dalamnya. Dalam ibadat terdapat amalan qalbiyyah (yang berkaitan dengan hati), qauliyyah (yang berkaitan dengan perkataan), amaliyyah (yang berkaitan dengan tindakan), maliyyah (yang berkaitan dengan harta), solat, zakat, puasa, haji dan jihad. Bahkan, dalam solat, ada posisi berdiri, ruku’, sujud dan duduk.
Oleh kerana itu, sesiapa yang menginginkan kepuasan, semangat yang tinggi dan produktiviti, maka hendaklah ia mempelbagaikan di dalam pekerjaannya, membaca buku yang berbagai jenis dan menjalani kehidupan ini dengan beraneka kegiatan. Misalnya ketika membaca,ia perlu mempelbagaikan bacaannya, di antaranya Al-Qur’an, tafsir, sirah Rasulullah, hadith, fiqh, sejarah, sastera dan ilmu pengetahuan umum dan seumpamanya. Demikian pula dalam menjalankan kegiatan rutin harian, anda perlu menentukan bila waktu untuk beribadah, mencari hiburan, mengunjungi sahabat, menerima tetamu, berolahraga dan berekreasi. Dengan ini, nescaya jiwanya akan selalu merasa segar dan ceria, kerana dia melakukan kepelbagaian aktiviti dan merasakan keindahan dari sesuatu yang baru.
Kesenangan dan kesedihan adalah hal biasa
yang mengiringi kehidupan.
Semua itu tidak lain sekadar hiasan waktu
yang silih berganti.
Adakala ketika seorang manusia
dapat diselamatkan dari kematian
sedangkan di lain hari
sekelompok besar pasukan mati.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...